Rasanya hampir semua orang punya mimpi bisa berjalan-jalan keliling dunia. Masalahnya,bagi sebagian orang, keinginan keliling dunia mungkin hanya tetap jadi mimpi indah peneman tidur. Bukan apa-apa. Untuk melakukannya, butuh dukungen materi yang tidak sedikit.
Namun, jangan sedih atau putus asa dulu. Ibarat kata pepatah, banyak jalan menuju Roma, banyak cara untuk bisa jalan-jalan dengan biaya murah.
Simak saja perjalanan Marina Silvia Kusumawhardani, lulusan Teknik Industri ITB 2001, yang sukses melancong sendirian tahun2006 ke 13 negara dan 45 kota di Eropa selama enam bulan, hanya dengan pesawat, visa, dsb, toh jumlah uang tersebut tetap termasuk kategori irit.
Ia menuangkan pengalaman itu dalam bukunya berjudul “Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1.000 Dolar”, yang kini sudah naik cetak keempat.. “1.000 dolar itu sebenarnya termasuk mahal dan sama oleh-oleh. Pas kenalan backpacker lain, ternyata banyak yang lebih gila murah biayanya,” kata Marina.
Orang-orang mungkin bertanya, kok bisa? Internet yang menjadi kuncinya. Marina memanfaatkan Hospitality Club (www.hospitalityclub.org), jaringan pertemanan dunia maya khusus bagi traveler atau backpacker. Situs itu mirip Friendster atau Facebook. Setiap orang memiliki profil yang tujuannya agar bisa saling terhubung dan mengunjungi satu sama lainnya. Walhasil, biaya hidup selama petualangan bisa ditekan.
Seorang backpacker bisa memilih penduduk yang akan menjadi calon tuan rumah (host), sesuai ketertarikannya. Untuk mengenal sang host, tersedia profil, foto, dan testimoni sesama anggota, yang dipajang dalam situs tersebut.
Backpacker adalah istilah untuk menyebut traveler dengan budget minim demi misi menjelajahi tempat-tempat menarik di dunia. Tas punggung atau backpack menjadi ciri khas yang menemani mereka. Walau kini backpacker tidak melulu menggunakan tas ransel di punggung.
Apa asyiknya menjadi backpacker?
Padahal, jika menggunakan jasa biro wisata, mungkin akan lebih praktis, sebab tahu beres soal akomodasi dan transportasi. Menurut Sonson, anggota komunitas pecinta alam di sebuah PTS di Palembang yang doyan backpacking selain menghemat budget, menjadi backpacker bisa jadi akan memetik pengalaman yang lebih kaya dan lebih intim sifatnya daripada jasa biro wisata.
“Ada kepuasan tersendiri saat merencanakan jalur, menentukan waktu, mengalkulasi biaya, hingga pandai-pandai mengantisipasi segala kemungkinan yangbisa terjadi segala kemungkinan yang bisa terjadi selama di perjalanan,” katanya.
Para backpacker biasanya tidak peduli jika harus menaiki kendaraan umum yang penuh sesak dan tidak nyaman. Bukan masalah pula jika harus tidur di sembarang tempat, mulai dari pos gardu, bandara, stasiun dan emperan.
“Selain cari hotel yang murah, saya juga suka tidur di bandara,” kata Sonson yang sudah melakukan traveling ke hamper seluruh provinsi di Indonesia.
Agar bisa traveling dan bertahan hidup dengan biaya murah, memang butuh siasat tersendiri. Menurut Adithya backpacker lainnya salah satu dana terbesar adalah transportasi dan penginapan.
“Kalau pergi, cobalah waktu malam hari. Jadi kita bisa tidur di kendaraan, hemat biaya penginapan,” katanya.
Semakin hari, banyak orang dari berbagai kalangan menyukai gaya berwisata ala backpacker. Salah besar jika mengidentikkan para backpacker sebagai turis kere. Kini, tak sedikit backpacker dari kalangan berduit yang merindukan kebebasan.
Perlahan tapi pasti backpacking menjadi semacam gaya hidup. Itu bisa dilihat dari sejumlah mailing list di internet bertemakan traveler atau backpacker , yang berisi member ribuan orang.
Fasilitas ini dimanfaatkan oleh Angga, mahasiswa semester IV Unsri. “Saya menikmati sensasi liburan yang berbeda,” katanya. Bukan sekedar menjadi turis manis yang narsis foto, menurut Angga, backpacker itu lebih dekat dengan kebebasan menyenangkan diri sendiri. Backpacker mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah dijangkau sebelumnya, bergaul, dan mencoba memahami budaya setempat. “Kita bisa menjadi lebih open-minded dan sabar,” katanya.
Sementara bagi Aditya, pengembaraan gaya backpacker membuatnya matang secara jiwa, karena luasnya wawasan akibat dengan berbagai orang dan peristiwa menarik sepanjang perjalanan. “Kita semakin belajar melihat perbedaan, dari mulai budaya hingga agama, dan melihatnya sebagai keberagaman yang indah.”
“Bahkan, hasil traveling itu tidak akan berakhir. Kalau cocok, bisa berlanjut jejaringnya, mau sekolah bareng, bisnis bareng, pokoknya investasi luar biasa deh,” kata Aditya yang kini membuka distro perlengkapan outdoor.
(gita sahila)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar